Sepuluh tahun lalu, hiburan itu urusan bersama. Keluarga duduk di depan TV jam delapan malam, semua nonton acara yang sama karena memang cuma itu yang disiarkan. Sekarang beda. Adik saya nonton anime di kamar, ibu saya scroll video masak di TikTok, dan saya sendiri lagi dengerin podcast yang mungkin cuma didengar seribu orang di seluruh Indonesia. Tiga orang, satu atap, tiga dunia hiburan yang nyaris tidak beririsan.
Dari Nonton Bareng Keluarga ke Diet Hiburan Masing-Masing
Perubahan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari cara platform hiburan sekarang dirancang, yang diam-diam menggeser kebiasaan kita dari menonton bersama menjadi menikmati sesuatu sendiri-sendiri, meski masih dalam satu rumah yang sama.
Algoritma yang Membentuk Hiburan Personal Kita
Algoritma yang bikin ini terjadi. YouTube, TikTok, Spotify, semuanya belajar dari kebiasaan nonton dan dengar kita, lalu nyodorin konten yang makin lama makin spesifik.
Bagaimana Spotify dan Netflix Membaca Kebiasaan Kita
Spotify punya Discover Weekly yang isinya lagu-lagu yang bahkan belum pernah saya dengar tapi cocok dengan selera saya, disusun dari data yang saya sendiri tidak pernah sadar saya kasih. Netflix bahkan dikabarkan punya ribuan kategori mikro internal, bukan cuma horor atau komedi, tapi kombinasi rumit seperti film thriller psikologis dengan tokoh utama perempuan yang ditonton larut malam. Efeknya, dua orang di rumah yang sama bisa punya diet hiburan yang benar-benar beda. Bukan cuma soal genre, tapi juga soal ritme. Ada yang suka video 15 detik, ada yang masih betah nonton film dua jam penuh.
Ketika Referensi Bersama Menghilang dari Obrolan
Yang menarik, personalisasi ini bikin orang lebih gampang nemu hal yang cocok, tapi juga bikin obrolan bareng jadi lebih susah. Dulu, pertanyaan basa-basi soal episode terbaru hampir pasti nyambung ke siapa saja, karena memang cuma ada beberapa channel dan semua orang nonton di jam yang sama. Sekarang, kemungkinan besar orang yang diajak ngobrol tidak tahu apa yang kita maksud, karena dia sibuk dengan rekomendasi algoritmanya sendiri. Fenomena ini sering disebut sebagai hilangnya momen budaya bersama, situasi di mana tidak ada lagi acara yang benar-benar ditonton semua orang di waktu yang sama seperti dulu.
Ruang Baru untuk Minat yang Nyeleneh
Saya tidak bilang ini buruk. Ada untungnya juga. Orang introvert atau yang minatnya nyeleneh sekarang punya ruang. Dulu kalau suka genre musik yang aneh, atau tertarik pada topik yang sangat spesifik seperti sejarah kapal selam, susah menemukan teman ngobrol. Sekarang algoritma yang mencarikan komunitasnya untuk kita, entah lewat grup Facebook, server Discord, atau sekadar rekomendasi video yang mempertemukan kita dengan orang-orang berminat sama tanpa perlu usaha keras.
Personal Bukan Berarti Tidak Sepi
Tapi ada harga yang dibayar. Rasa nonton bareng yang dulu jadi pengalaman sosial, sekarang lebih sering dijalani sendirian, meskipun secara teknis kita terhubung lewat kolom komentar atau grup chat. Menonton sesuatu sendirian sambil membaca reaksi orang lain di kolom komentar itu terasa berbeda dengan duduk di sofa yang sama dan tertawa bersamaan. Personal bukan berarti tidak sepi. Malah, ada penelitian informal yang sering dibagikan di media sosial soal bagaimana generasi yang tumbuh dengan hiburan personal justru merasa lebih sulit menemukan bahan obrolan spontan dengan orang baru, karena referensi budaya yang dulu jadi bahasa umum sekarang terpecah jadi ribuan versi kecil.
Bagaimana Industri Hiburan Menyesuaikan Diri
Industri hiburan sendiri harus beradaptasi dengan kondisi ini. Studio film dan label musik yang dulu cukup membuat satu produk besar untuk semua orang, sekarang harus berpikir soal segmentasi.
Segmentasi ala Marvel dan Musisi Indie
Marvel misalnya, mulai membuat serial yang ditujukan untuk audiens yang sangat spesifik dibanding film blockbuster yang menyasar semua kalangan. Musisi indie pun bisa punya karier yang sehat hanya dengan menyasar ceruk penggemar yang kecil tapi loyal, tanpa perlu jadi hit nasional seperti dulu. Bukan lagi soal menjangkau sebanyak mungkin orang dengan satu produk yang sama, tapi soal membangun hubungan yang lebih dalam dengan audiens yang jumlahnya lebih kecil.
Usaha Membangun Kembali Momen Bersama
Saya juga lihat orang-orang di sekitar saya diam-diam merindukan cara lama menikmati hiburan bersama. Watch party lewat panggilan video sempat ramai waktu pandemi dan ternyata bertahan sampai sekarang. Keluarga saya sendiri punya kebiasaan baru, sengaja menonton drama Korea di jam yang sama walau beda kota, cuma supaya bisa langsung bahas di grup chat begitu episode selesai. Rasanya seperti sengaja membangun kembali sesuatu yang dulu terjadi begitu saja tanpa perlu direncanakan, karena dulu memang tidak ada pilihan lain selain nonton bareng di jam yang sama.
Ke Mana Arah Personalisasi Hiburan Selanjutnya
Platform tentu akan terus mendorong arah personalisasi ini, itu jelas menguntungkan mereka. Makin spesifik rekomendasinya, makin betah orang berlama-lama di aplikasi, dan makin banyak juga data yang bisa dikumpulkan untuk mempertajam algoritmanya lagi. Yang jadi pekerjaan rumah buat kita bukan menolak arah ini, karena rasanya percuma, melainkan mencari cara supaya hiburan tetap bisa jadi sesuatu yang dibagi bareng orang lain, bukan cuma dinikmati sendirian di balik layar masing-masing.
Efek Tersembunyi: Selera yang Makin Sempit
Ada satu efek yang menurut saya jarang dipikirkan orang, soal bagaimana algoritma diam-diam menyempitkan selera kita sendiri. Semakin sering disodorkan hal yang mirip dengan yang sudah kita sukai, semakin jarang kita ketemu sesuatu yang benar-benar di luar kebiasaan. Dulu nonton TV itu kadang harus sabar melewati acara yang bukan favorit dulu sebelum acara yang ditunggu tayang, dan dari situ kita malah tanpa sengaja jadi kenal genre yang sebelumnya tidak pernah kita cari sendiri. Sekarang semuanya sudah disaring sesuai selera, jadi ruang buat kejutan yang benar-benar di luar dugaan itu makin kecil, meski kalau dilihat sepintas, pilihan yang tersedia justru terlihat lebih banyak dari sebelumnya.
Eksperimen Kecil: Mematikan Algoritma Selama Sehari
Saya sempat mencoba sesuatu yang agak konyol beberapa bulan lalu, sengaja mematikan rekomendasi personalisasi di salah satu aplikasi streaming musik dan memutar radio biasa yang programnya ditentukan penyiar, bukan algoritma. Rasanya aneh di awal, banyak lagu yang menurut saya biasa saja, tapi ada beberapa yang justru saya suka dan tidak pernah muncul di rekomendasi pribadi saya selama ini. Pengalaman kecil itu bikin saya sadar, kenyamanan personalisasi juga punya biaya tersembunyi berupa sempitnya jangkauan selera kita sendiri, meski kita jarang menyadarinya karena semuanya terasa pas dan menyenangkan setiap saat. Mungkin itu sebabnya beberapa orang sengaja mencari rekomendasi dari manusia lagi, entah lewat komunitas kecil di Discord atau newsletter kurasi yang ditulis orang sungguhan, sebagai cara menyeimbangkan efisiensi algoritma dengan kejutan yang cuma bisa datang dari selera orang lain yang tidak sama persis dengan kita.
FAQ Seputar Personalisasi Hiburan
Kenapa hiburan sekarang terasa lebih personal dibanding sepuluh tahun lalu?
Penyebab utamanya adalah algoritma rekomendasi di platform seperti YouTube, TikTok, Spotify, dan Netflix. Platform-platform ini mempelajari kebiasaan nonton dan dengar tiap pengguna secara individual, lalu menyodorkan konten yang makin lama makin spesifik sesuai selera masing-masing, bukan lagi konten seragam untuk semua orang seperti era TV siaran.
Apakah algoritma personalisasi konten itu merugikan?
Tidak sepenuhnya. Sisi positifnya, orang dengan minat yang sangat spesifik atau nyeleneh jadi lebih mudah menemukan komunitas dan konten yang cocok. Sisi negatifnya, personalisasi bisa menyempitkan jangkauan selera kita dalam jangka panjang dan mengurangi momen hiburan yang benar-benar dibagi bersama orang lain.
Bagaimana cara tetap punya momen hiburan bersama di tengah algoritma yang serba personal?
Beberapa cara yang mulai populer antara lain watch party lewat panggilan video, menyepakati jam nonton bareng meski secara fisik terpisah, atau sengaja mengikuti rekomendasi dari komunitas dan kurator manusia, bukan cuma algoritma, supaya ada bahan obrolan yang sama dengan orang lain.
Apakah tren personalisasi hiburan ini akan terus berlanjut?
Kemungkinan besar iya, karena model ini menguntungkan platform: makin personal rekomendasinya, makin lama pengguna betah di aplikasi. Yang bisa dikendalikan bukan arah trennya, melainkan bagaimana kita menyeimbangkannya dengan usaha sadar untuk tetap punya pengalaman hiburan yang dibagi bersama orang lain.
Apa dampak personalisasi terhadap selera musik atau film kita dalam jangka panjang?
Karena algoritma cenderung menyodorkan hal yang mirip dengan yang sudah kita sukai, paparan terhadap genre atau topik baru yang di luar kebiasaan jadi berkurang. Ini bisa membuat selera kita perlahan menyempit meski secara teori jumlah pilihan yang tersedia jauh lebih banyak dibanding dulu.